KEBANGKITAN CHINA MENURUT REALIS




Di dalam benak saya, tidak terlintas ada kata-kata kebangkitan China. Tetapi, internet dan media mendogma bahwa China memang sedang bangkit. Kenapa harus bangkit? Bangkit dari apa? Bagi saya, China tetap sebuah imperium hasil unifikasi suku-suku di wilayah China sekarang yang dapat kita lihat dalam film Three Kingdom atau komik No Man’s Land. Tulisan ini berupaya untuk memaparkan bagaimana pandangan realis tentang kebangkitan China.

Mitos Ambruknya China
Mungkin, film The Last Emperor mewakili gambaran nyata berakhirnya imperium China. Kaisar China [yang dianggap terakhir menurut film itu] yang masih kecil, akhirnya diisolasi di sebuah istana dan tetap diperlakukan selayaknya kaisar tanpa harus tahu apa yang terjadi di luar istana: China telah berubah menjadi Negara baru, yakni Republik Rakyat China. Berakhirnya imperium adalah tanda jatuhnya China. Inilah mitos pertama. Kenapa? Metamorphosis ulat ke kupu-kupu tidaklah membuat kupu-kupu itu mati meski ia begitu payah menjalaninya. Perubahan system pemerintahan di China tidak bisa serta merta menganggap China jatuh. Itu hanya persepsi.

Dengan runtuhnya Tembok Berlin, dengan bersatunya kembali Jerman Barat dan Jerman Timur, dengan takluknya Lenin dan Stallin serta bubarnya Uni Covyet, menandai kalahnya komunisme di seluruh dunia. Negara-negara aliansi blok Timur itu kalah semuanya oleh Negara-negara blok Barat. Karena China adalah Negara komunis dan partner-partner sudah kalah, maka China pun sudah kalah oleh AS dan sekutunya. Ini mitos kedua. Kenapa? Karena meski demokrasi digulirkan dimana-mana, China tetap Negara komunis hingga saat ini.

Bagaimana dengan bencana kelaparan yang melanda China? Tidakkah ini menunjukkan jatuhnya China? Pada tahun 1959-1961 terjadi bencana kelaparan. Sekitar 30 juta warga Cina diperkirakan meninggal. Ketika itu, Mao sedang merencanakan revolusi industri besar-besaran dengan apa yang disebut Loncatan Besar ke Depan. Semua sektor dikelola secara kolektif dan diatur dengan ketat. Karena rencana pertanian yang salah, akibatnya terjadi bencana kelaparan besar. Swadaya yang diinginkan Mao telah membunuh rakyatnya sendiri. Tapi dengan hal itu, para pemimpin China mempunyai pengalaman berharga untuk tetap bertahan dan bangkit mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi.

Persepsi Orang China tentang Kebangkitan China
Kebangkitan China, khususnya kebijakan luar negri, dimotori oleh para ‘think tanks’ yang terdiri dari para spesialis, para akademika, pensiunan diplomat dan komentator media. Mereka berasal dari lembaga-lembaga seperti Chinese Academy of Social Sciences, Development Research Center of the State Council, Chinese Academy of Sciences, Academy of Military Sciences, China Institute of International Studies, China Institute of Contemporary International Relations, China National Committee for Pacific Economic Cooperation, China Association for Science and Technology, China Institute for International Strategic Studies, dan Shanghai Institute for International Studies. Mereka mempengaruhi persepsi orang-orang China meliputi isyu-isyu seperti mimpi China menjadi great power, persepsi tentang ‘China Threat Theory’, persepsi tentang ke-China-an dan pandangan tentang masa depan dunia. Pendekatan yang mereka pakai adalah ‘pluralistic elites’, yakni meski keputusan tetap berada di tangan para elit, namun tidak ada satupun konsensus yang dibangun oleh para pemimpin tanpa mengkonsultasikan terlebih dahulu dengan departemen pemerintahan dan para think tank.

Keinginan untuk menjadi great power bagi orang China tidak bisa lepas dari sejarah besar bangsa ini sebagai sebuah imperium yang berkuasa lebih dari 5000 tahun. Rasa bangga ini bisa menjadi dasar nasionalisme dan kunci pendorong orang-orang China dalam rangka meraih kembali status great power. Anggapan China sebagai great power muncul sekitar tahun 1940an ketika Amerika Serikat berupaya melakukan counterbalance [penyeimbang tandingan] terhadap Jepang dan Rusia . Hal ini dimotivasi juga dengan keinginan mengejar zonghe guoli (comprehensive national power) yang terdiri dari empat kategorisasi, yaitu (i) basic power (populasi, sumber daya alam, dan kesatuan nasional), (ii) economic power (kekuatan industry, agrikultur, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekuatan keuangan, dan perdagangan), (iii) national defense power (sumber daya strategi, teknologi, kekuatan militer, dan nuklir), dan (iv) diplomatic power (kebijakan luar negeri, sikap terhadap urusan internasional, bantuan luar negeri, dan sebagainya). Sebagai langkah awal, pada saat ini China lebih memperkuat aspek ekonomi guna menyokong dimensi militer dalam konsep keamanan nasionalnya. Misalnya, pada bulan November 2000 China dan ASEAN memulai negosiasi tentang Free Trade Agrement. Kemudian, setelah krisis 1997, China menggeser ASEAN sebagai Negara yang mempunyai prospek cerah dalam masalah investasi asing langsung di Asia.

Prospek cerahnya China ini malah menimbulkan kekhawatiran. Para analis mengabadikannya dalam sebuah teori, yakni “China Threat Theory” yang memunculkan varian seperti “China economic threat,” “China grain threat,” “China environment threat,” “China military threat,” “China civilization threat,” “China energy threat,” “China diplomacy threat,” dan “China model threat.”. Teori ini memicu munculnya reaksi Anti-China, terutama dari Negara-negara Barat, Jepang, bahkan Asia. Teori ini mendasar pada persepsi tentang identitas ke-China-an, bahwa orang China itu bisa dibedakan dengan non-China. Dimana pun ia berada, ia tetap China. Persepsi ini menimbulkan reaksi ancaman laten terhadap China dari non-China.
Dalam pandangan orang China, kebangkitan China merupakan hasil dari Zhenxing Zhonghua yang dimulai oleh Sun Yatsen, penegak China modern. China menginginkan status kejayaan yang pernah hilang. Para pendiri China modern itu melihat perekonomian China terlalu lemah untuk mendukung status superpower. Karena itulah mengapa perekonomian China harus dibangun dengan kuat untuk mengembalikan kejayaan.
Namun semangat Anti-China bisa menjadi penghambat besar dan dirasa perlu untuk meng-counter hal itu. Salah satunya dengan mengembangkan kerjasama keamanan internasional. Melalui kerjasama diharapkan persepsi tentang ‘China Threat’ menurun di kalangan pemerintah Negara lain yang nantinya disampaikan secara halus oleh pemerintah tersebut kepada rakyatnya. Contohnya, baru-baru ini China dan Rusia mengembangkan kerjasama bilateral yang cukup intens.

Rusia dan Cina hendak meningkatkan kerja sama di sektor energi, explorasi kekayaan bumi dan perluasan infrastruktur. Pada hari Senin, tanggal 12 Oktober 2009, Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin tiba di Beijing untuk menandatangani sederetan perjanjian ekonomi. Sekitar seratus wakil perusahaan mendampingi Putin dalam lawatan selama tiga hari di Beijing. Berbagai perjanjian senilai lebih dari 3,5 milyar Dolar telah dipersiapkan, seperti untuk sektor perbankan, bangunan, transportasi, infrastruktur, dan terutama lagi sektor energi.

Secara resmi, Moskow dan Beijing terjalin dalam hubungan kemitraan strategis. Kunjungan timbal balik para presiden dan perdana menteri sudah biasa. Salah satu lawatan pertama ke luar negeri dari Presiden Rusia Medvedev setelah memangku jabatannya bulan Mei tahun 2008 lalu, dilakukannya ke Cina. Ketika itu Medvedev mengatakan: “Sektor energi kami akan terus berkembang. Yang diprioritaskan adalah teknologi canggih seperti energi atom, penerbangan ruang angkasa, teknologi nano dan informatika.”
Sengketa ideologi di tahun 60-an dan 70-an sudah dilupakan. Dalam berbagai masalah politik dunia Moskow dan Beijing sering sejalan. Misalnya dalam soal Iran, kedua negara mengritik Amerika Serikat di bawah Presiden Bush. Selain itu mereka juga menuntut perluasan cadangan devisa dengan Yuan dan Rubel. Volume perdagangan antara Rusia dan Cina meningkat dari 10 milyar menjadi sekitar 50 milyar Dolar sejak tahun 2002. Lebih dari 50 persen pemasukan Rusia diperoleh dari ekspor minyak. Rusia menyayangkan bahwa ekspor mesin dan peralatan masih sangat sedikit. Bulan Juli lalu perusahaan negara Rusia Rosneft dan perusahaan energi Cina CNPC menjalin kerjasama untuk 20 tahun ke depan. Rosneft memasok minyak dan Cina memberikan kredit berjumlah milyaran Dolar. Bisnis serupa di sektor gas diperkirakan akan ditandatangani oleh Putin dalam lawatannya ini.
Bulan September lalu, Presiden Rusia Medvedev dan rekannya Hu Jintao sudah menandatangani perjanjian di New York. Perjanjian yang akan berlaku sampai tahun 2018 itu merencanakan, bahwa di daerah dekat perbatasannya, Cina membangun pabrik pengolahan untuk bahan baku Rusia seperti batubara, bijih besi dan logam mulia.
Budaya

Masuknya aspek budaya dalam kajian realism diperkenalkan oleh Samuel Huntington. Dari tujuh peradaban yang disuguhkan Huntington, China merupakan satu peradaban tersendiri. Setiap peradaban mempunyai karakteristik dan potensinya sendiri. China diperhitungkan sebagai peradaban sendiri, selain aspek sejarah, juga karena ketersebaran orang China di dunia dengan tetap memiliki rasa ke-China-annya. Ketersebaran ini bisa memudahkan kebangkitan China secara lembut (unsur soft power).
Guna mendukung bangkitnya China dengan cara yang lembut sehingga tidak ada Negara atau bangsa yang merasa terancam karenanya, penulis melihat China telah melakukan beberapa propaganda. Pentingnya propaganda budaya terlihat dari pernyataan Li Changchun , anggota politbiro yang mengurusi propaganda. Ia mengatakan bahwa bangsa-bangsa dengan kemampuan komunikasi terkuat menyebarluaskan budaya dan nilai-nilainya ke seluruh dunia dan dengan begitu mempengaruhi dunia.
Sampai tahun 2011, Beijing menghabiskan sekitar lima miliar Euro untuk pengembangan media luar negerinya. Sebagian besar dikucurkan untuk stasiun televisi berbahasa Inggris di bawah Kantor Berita Xinhua, “Global Times” yang mengudara sejak April lalu.
 
Bertahun-tahun sebelumnya, Beijing sudah berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan institut budaya Cina. Institut Konfusius pertama dibuka di Seoul, tahun 2004. Sekarang jumlahnya mencapai 300 buah, tersebar di seluruh dunia. Di Jerman saja ada 8 buah. Program intinya, kursus bahasa Cina. Menurut Anja Warnecke-Bi, memimpin institut Konfusius di Frankfurt, peran ekonomi Cina di dunia semakin besar, dan Beijing tidak ingin Cina dilihat sebagai ancaman. Lewat Institut Konfusius diharapkan orang-orang bisa mengenal Cina dan budayanya dengan lebih baik. Karena rasa takut sering muncul pada hal yang tidak kita kenal atau ketahui. Dan ketidaktahuan itulah yang ingin dihapuskan.
Olimpiade Beijing 2008 merupakan propaganda budaya yang tepat dalam menaikkan image China. Para atlit, para elit Negara dari berbagai Negara langsung datang ke China dan dapat menangkap gambaran langsung tentang China. Tentunya, peran wartawan dan media massa tidak kurang penting. China terbuka untuk dunia.
Keamanan

Keamanan masih menjadi unsur kajian penting dalam hubungan internasional. Dengan nuansa yang lebih saintifik, Kenneth Waltz berpendapat bahwa ternyata, dalam kondisi yang anarki, kerjasama internasional tetap terjadi. Namun, kerjasama ini berdiri di atas permasalahan system internasional yang sangat prinsipil yakni ‘who gains more, who gains less?’ dan ‘who gains, who losses?’.
 
Kalah menang ini ditentukan oleh power yang esensinya terletak pada militer. Fungsi militer ini sekarang berkembang tidak hanya sekedar untuk mempertahankan kedaulatan, peperangan tapi juga meluas pada masalah pengamanan asset, terutama asset ekonomi. Inilah alasannya, mengapa pada saat damai sekalipun, Negara-negara tetap berupaya untuk memperbesar kekuatan militernya.
Dalam masalah memperbesar power, muncullah konsep security dilemma. Ketika suatu Negara berupaya untuk memperbesar kekuatannya, upaya tersebut bisa membuat resah Negara-negara lain. Maksud negara tersebut mungkin untuk pengamanan internal, seperti menjaga ketertiban dan keamanan di wilayah perbatasan atau penjagaan dari tindakan criminal. Tapi benarkah Negara tersebut hanya bermaksud meningkatkan power internalnya? Siapa yang bisa menjamin dia tidak akan mempergunakan power-nya untuk menyerang Negara lain? Arms races contoh nyata respon Negara atas security dilemma.
Laporan CSIS menunjukkan bagaimana China selalu meningkatkan anggaran militernya. Pertanyaan untuk apa sempat muncul dalam benak penulis. Tapi Laporan CSIS tidak menjawabnya. Anggaran militer China selalu meningkat setiap tahun. Pada tahun 2005 anggarannya paling tinggi dibandingkan Negara-negara asia lainnya (lihat grafik di bawah). Hampir semua Negara Asia meningkatkan anggaran militer dari tahun ke tahun, kecuali Jepang. Begitu pula jika diperbandingkan dengan Negara-negara di dunia. Hampir semuanya meningkatkan anggaran militer, tapi tidak sedrastis China dan Amerika Serikat.
Ekonomi China

Pertumbuhan ekonomi China bermula pada akhir tahun 1970an dengan berlangsungnya reformasi domestic dan ekonomi pedesaan. Pertumbuhan domestic ini semakin pesat ketika perekonomian China terintegrasi ke dalam pasar-pasar regional dan global disertai proses industrialisasi dan urbanisasi. Terintegrasi atau terbukanya pasar China tidak lepas dari peranan Partai Komunis yang menggerakkan unit-unit bisnis untuk mendukung kekuatan politik mereka. Idealisasi komunis terlihat ditinggalkan guna mengejar kepentingan nasional yang lebih besar lagi: Komunis yang sangat Kapitalis. Terbukanya perekonomian China mampu menjadi pionir peredam krisis Asia 2008 kemarin. Menurut penulis, China mampu menjadi hegemon ekonomi Asia dengan factor pendorong dan penghambat yang akan penulis uraikan di bawah ini.
Menurut Louis Kuijs, ekonom senior World Bank, pertumbuhan ekonomi China akan tumbuh 7,2-8,4% tahun 2009 . Pertumbuhan ini dipicu oleh paket stimulus paket stimulus senilai empat triliun yuan (USD586 miliar) yang diluncurkan tahun 2008. Paket ini didukung pengucuran pinjaman perbankan 8,67 triliun yuan pada Januari–September 2009.

Namun menurut Dr Arthur Waldron , Guru Besar Hubungan Internasional di University of Pennsylvania, pertumbuhan perekonomian yang cepat menunjukkan tidak sehatnya perekonomian China. Menurutnya, ada tiga masalah dengan perekonomian Cina, yaitu: pertama, Ketergantungan berat pada ekspor: sebanyak 39,7% dari PDB China adalah ekspor asing, hal ini, lebih jauh, akan membuat perekonomian terbesar Cina tergantung pada penjualan luar negeri; kedua, permintaan domestik ekstrem rendah: Laju konsumsi pribadi Cina pada 2007 adalah 35% dibandingkan dengan 70% untuk AS dan 56% untuk Jepang; ketiga, pengeluaran raksasa pemerintah: 55% dari PDB Cina adalah pengeluaran dan investasi pemerintah pada proyek-proyek infrastruktur besar, yaitu membangun jalan, gedung-gedung. Angka ini lebih besar dua kali lipat dari persentase USA (20%). Profesor Waldron mengatakan proyek-proyek besar pemerintah sering tidak menguntungkan. Pemerintah Cina dengan mudah mengambil dan menghapus tabungan rakyat China untuk membangun proyek-proyek besar ini untuk pemuliaan diri .

Menurut Dr Jason Ma, seorang analis kelahiran Cina yang sering muncul di Program Komentar pada New Tang Dynasty Television, mesin yang membuat ekonomi Cina tumbuh pesat adalah jutaan pekerja migran. “Sekitar 80% dari penduduk Cina tinggal di daerah pedesaan – yang disebut sebagai ‘penduduk petani’. Sebagian besar dari mereka hidup di bawah kemiskinan. Mereka haus pekerjaan yang dapat menghasilkan uang dan memberi makan keluarga mereka. Jutaan dari “penduduk petani” ini datang ke kota untuk mencari pekerjaan di bidang konstruksi, pabrik dan sebagai pekerja kasar. “

Ma mengatakan pekerja migran ini adalah angkatan kerja termurah, terbesar dan paling produktif di dunia: mereka sama seperti mesin pekerja non-stop Cina – selain makan 3 kali dan tidur selama beberapa jam, mereka tidak mempunyai kegiatan apapun lagi yang harus dilakukan – mereka tidak mempunyai keluarga dan teman di kota. Selain untuk kebutuhan hidup, mereka tidak menghabiskan uang dan mengkonsumsi kebutuhannya lainnya.
Secara internal, perekonomian China mengalami masalah besar. Pada tahun 2004, 90.000 petani di Provinsi Sichuan menggelar protes, frustrasi dengan kurangnya respons terhadap keluhan mereka atas perampasan tanah mereka untuk Proyek Bendungan. Pemerintah mengirim 10.000 tentara militer untuk memecahkan masalah. Langkah-langkah pengamanan yang tidak jauh berbeda dari orang-orang yang mengalami Pembantaian Tiananmen 20 tahun lalu. Selama beberapa dekade, pemerintah Cina telah berhasil mempertahankan “stabilitas” dan “harmoni” sosial – yang penting bagi Partai untuk menopang pertumbuhan ekonomi Cina.
Penutup
Kebangkitan China hanyalah sebuah mitos jatuh bangunnya sebuah peradaban. Kebangkitan China dipersepsikan oleh Amerika Serikat setelah jatuhnya rival AS, yakni Uni Sovyet atau Jepang yang mampu dikendalikan AS. Kebangkitan China tidak bertumpu pada aspek militer tapi pada aspek sejarah dan identitas ke-China-an. Identitas ini mampu menjadi kunci pendorong kepercayaan rakyat China untuk mewujudkan kembali mimpi menjadi great power karena mereka pernah menjadi suatu imperium besar yang berkuasa lebih dari 5.000 tahun. Langkah awalnya adalah dengan menggenjot sektor perekonomian sebagai fondasi aspek-aspek kebangsaan lainnya. Namun, kebangkitan China menimbulkan reaksi Anti-China. Para think tanks China memandang reaksi ini sebagai hal negatif bagi kemajuan China dan merasa perlu untuk melakukan counter pemahaman. Karenanya, kebangkitan China diupayakan melalui aspek non-militer dengan mengedepankan kerjasama ekonomi, budaya atau kerjasama militer tanpa mengarah pada aliansi atau gerakan militer.

Penulis : Deasy Silvya Sari

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger