AK 47 SENJATA PARA PEMBERONTAK

Simbol Perlawanan dan Perjuangan
Bisa digunakan oleh siapa saja, tak mudah macet dan gampang dirawat. Kelebihan itulah yang membuat 50 angkatan bersenjata dan tak terhitung kelompok perlawanan, memilih AK 47 sebagai senjata utama bagi para personelnya. Akurasinya memang tidak sebaik M­16, namun sebagai senapan untuk pertempuran jarak dekat kelemahan ini bukanlah perkara serius. Hingga kini kira-kira telah beredar 75 sampai 100 juta pucuk di seantero dunia. Reputasinya yang mendunia dengan sendirinya diikuti catatan buruk bahwa senapan ini juga telah membunuh begitu banyak orang. AK telah menewaskan jutaan orang dan mengakibatkan jutaan lainnya mengungsi. Ini jauh lebih besar dari korban bom atom di Jepang. Tak heran jika kepadanya dise­matkan predikat senjata pemusnah paling dahsyat di dunia. The most devastating weapon in the world

Kisah pertempuran antara (helikopter serang Angkatan Darat AS, AH-64D Longbow, dengan tentara Irak bersenjatakan AK‑47 yang terjadi di Bagh‑ dad pada 23 Maret 2003 adalah kisah pertem­puran tak imbang paling dahsyat yang bisa digunakan untuk menggambarkan kesaktian senapan ini. Dari sini dunia bisa melihat bahwa betapa AS telah menginvestasikan miliaran dollar untuk senjata canggih yang bisa memusnahkan sebuah tempat dari ruang angkasa, AK-47 yang bisa ditebus dengan hanya 15 dollar masih tetap men­jadi senjata pemusnah massal yang paling menakutkan di dunia.
Helikopter serang AH-64 Apache, andalan Angkatan Darat AS untuk serangan darat dan antitank dalam Operasi Iraqi Freedom. Heli ini biasa dilengkapi kanon, roket dan rudal. Dalam kontak senjata di Baghdad, 23 Maret 2003, hell sangar ini toh bisa ditundukkan oleh milisi Irak yang hanya bersenjatakan AK-47.

Pada hari itu, alkisah, AD AS mengerahkan 32 AH-64 versi Longbow dan Apache untuk membuka jalan bagi iring-iringan kendaraan pasukan koalisi yang akan masuk ke dalam kota Baghdad dari arah utara. Ini adalah hari ketiga terhitung setelah AS dan pasukan koalisi memulai serangan ke Irak. Operasi militer untuk menumbangkan kekuasaan Saddam Hussein ini dikenal pula dengan sebutan Operasi Iraqi Freedom.

Helikopter antitank spesialis search and destroy itu sengaja dikerahkan dalam jumlah ban-yak karena situasi ibukota Irak belum sepenuhnya dikuasai. Di sana, dikuatirkan masih banyak bercokol personel Garda Re­publik – pasukan elit pengawal Presiden Saddam Hussein. Mereka kabarnya memiliki senjata antipersonel rudal darat ke darat dan roket ATACMS berhulu ledak born seberat 950 pon.

Tapi apalah artinya senjata­senjata itu dibanding kanon 30 mm milik Apache yang mampu menyemburkan 320 peluru per-detik dan rudal antitank AGM-114 Hellfire yang sanggup menjebol tank? Dengan berbagai persen­jataan mematikan yang ditenteng helikopter-helikopter itu, AD AS kelihatan percaya diri. Apalagi karena helikopter serbu itu terbang tidak sendirian.

Namun, tak lama setelah memasuki kota, wajah pilot-pilot AD AS itu sontak berkerut, khu­susnya setelah melihat sekelebat cahaya dari sebuah sudut jalan. Dua menit kemudian, nyali mere­ka tiba-tiba menciut setelah ribuan peluru menghambur dari berbagai arah ke arah helikopter yang mereka terbangkan. Kedatangan mereka rupanya sudah ditunggu.

Spot cahaya itu ternyata aba-aba serangan. Tidak ada satu sasaran pun yang bisa dibidik secara fokus oleh pilot Apache. Tembakan berasal dari berbagai titik, dari atap-atap gedung, dari gang, dari mana saja. Yang paling mencengangkan peluru-peluru itu bukanlah peluru kanon. Bagi para pilot peluru-peluru itu sangat kecil. Peluru-peluru itu ternyata berasal dari moncong senapan AK. Namun demikian, meski hanya be­rasal dari kaliber 7,62 mm, 31 dari 32 helikopter tempur ini benar-be­nar kerepotan dan mundur karena mengalami kerusakan. Kemana yang satu lagi? Terjangan peluru AK ternyata berhasil membuatnya jatuh. Kedua awaknya lalu menjadi tawanan perang.

Bob Duffney, salah seorang pilot Apache yang ‘mundur’ dari ajang pertempuran itu kemudian bercerita. Seperti dirasakan pilot-pilot Apache lainnya, is menga­takan, model pertempuran yang dihadapi di Irak benar-benar baru sekaligus menyeramkan “Kami ditembaki oleh senapan AK dari segala arah. Saya sendiri mendapat tembakan dari depan, belakang, kiri, kanan Dalam operasi Desert Storm, kami sama sekali tak men­galami perlawanan sehebat ini.”

Hingga saat itu para panglima perang dan prajurit AS tak pernah memandang serius daya bunuh AK. Padahal kejadian segenting ini, pernah dialami prajurit Ranger ketika menggelar operasi penangkapan Jenderal Moham­med Farrah Aidid, 3 Oktober 1993 di Mogadishu, Somalia. Beberapa personel yang ingin menyelamatkan awak udara dari dua heli UH-60 Blackhawk yang jatuh dalam operasi tersebut, pernah dibuat tak berkutik akibat dihujani peluru AK oleh pasukan Aidid. Operasi penangkapan Aidid itu pun berubah menjadi operasi penyelamatan awak udara dan prajurit Ranger yang terjebak di Mogadishu.
AB AS, semasa pemerintahan Bill Clinton, talc akan pernah me­lupakan kegagalan operasi Gothic Serpent. Pasalnya, dalam operasi penangkapan Aidid yang semula dibayangkan sangat mudah itu telah tewas 18 personel AS se­mentara 79 lainnya pulang dalam keadaan terluka. Mereka juga talc akan pernah melupakannya, karena pasukan Aidid sebaliknya berhasil menangkap Mike Durant, satu-satunya pilot Blackhawk yang selamat dalam pertikaian berdarah itu.

Kisah kegagalan operasi penangkapan Mohammed Farrah Aidid dapat disimak dalam film la­yar lebar Black Hawk Down (2001) karya sutradara Ridley Scott. Sama dengan sikap awak AH-64 Apache yang akan masuk kota Baghdad, awak UH-60 juga memasuki kota Mogadishu dengan perasaan jumawa. Pikir mereka, mana mungkin milisi dari negeri miskin mampu menghadapi serombon­gan helikopter bersenjata dan prajurit perkasa AS? Tembakan RPG tanpa dinyana berhasil merontokkan dua Blackhawk dan operasi ini pun berubah menjadi horor bagi pasukan elit AS.

Gothic Serpent dipimpin oleh Brigjen William F. Garri­son, perwira brilian yang dalam catatan reputasinya pernah ikut mendukung operasi penangkapan Pablo Escobar, raja kartel obas bius Colombia pada 1993. Operasi ini didukung 160 personel, 19 pesawat termasuk helicopter komando dan pengendali A/MH-6 Little Bird–, 12 kendaraan angkut personel, serta persenjataan cang­gih lain. Jumlah serta kecanggihan sistem persenjataan rupanya tak bisa memberangus keberingasan pasukan Aidid. Meski kekuatan mereka hanya bertumpu pada AK, Rocket Propelled Granade (RPG), dan kanon konvensional.

Andalan Perang Asimetrik
Bagi AS, pertempuran di Mogadishu merupakan pertem­puran dalam kota paling dramatik. Untuk mengantisipasi pertem­puran sejenis, Marinir AS kemu­dian berinisiatif menggelar Urban Warrior Program. Program ini didedikasikan agar setiap prajurit mampu menghadapi lawan yang hanya berbekal AK. Pimpinan Marinir AS sempat menyatakan, AK tak bisa disepelekan karena se napan ini masih akan jadi andalan untuk konflik masa depan.
Para pejuang Mujahidin dari Distrik Achin, Afghanistan, tengah berkumpul dengan AK-47 di tangan. Bersama pasukan koalisi, mereka tengah merencanakan untuk melawan Taliban (atas).

Bagi Angkatan Bersenjata AS, pertempuran Mogadishu dan Baghdad adalah indikator betapa perang masa depan masih akan di­warnai pertempuran – pertempuran asimetrik Pertempuran asimetrik adalah pertempuran antara dua kekuatan yang berbeda dengan persenjataan berbeda, dan dengan doktrin yang berbeda pula. Dalam pertempuran jenis ini, kemenan­gan belum tentu berpihak pada kekuatan dengan persenjataan yang lebih hebat Kekuatan yang lebih kecil bisa memberi pukulan telak karena cenderung mengenal medan dan berani melancarkan taktik perang gerilya.
Tentara Uni Soviet di Afghanistan. Mereka menggunakan AK-74.

Namun demikian, apa yang dipikirkan AB AS ternyata tak selalu sejalan dengan apa yang dipikirkan pars politisi. Larry Kahaner, wartawan Business Week yang kini terkenal namanya lewat buku AK-47: The Weapon that Changed the Face of War (2008) menegaskan hal itu. Katanya, me-ski berbagai konflik di dunia telah menguatkan kenyataan bahwa jumlah AK telah menggunung dan telah merembes ke berbagai negara dunia ketiga, kaum politisi di berbagai negara maju tetap sulit memahami, bahwa ada kekuatan tersembunyi di balik senjata seder­hana macam AK. Terlebih jika se­napan ini ada di tangan sekawanan pasukan yang brutal.

Lebih jauh Kahaner mengung­kap, sayangnya, kaum politisi me­mang kerap memandang remeh daya rusak senapan yang satu ini. Padahal, jika mereka mau melihat keadaan sebenarnya di berbagai daerah konflik Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, senapan ini telah merusak segalanya. Tiap tahun, katakan saja begitu, peluru AK telah mencabut nyawa seperempat juta orang dan bilcin menderita keluarga yang ditinggalkan.
Sebagian korban adalah milisi anggota kelompok perlawanan. Ironisnya, kematian yang mereka hadapi hanyalah kesia-siaan karena mereka tak pernah benar­benar mendapat imbalan yang telah dijanjikan. Sudah menjadi pemakluman tersendiri bahwa milisi yang tewas di medan per­tikaian seperti di Somalia, Sudan, Sierra Leone, Jalur Gaza, Afghani­stan, serta Nikaragua, Kolumbia, Peru, dan negara-negara Amerika Selatan lainnya, hanyalah korban dari kesewenangan pimpinannya Hanya pimpinan kelompoklah yang sesungguhnya mendapat untung.
U
NICEF juga punya penila­ian serupa. Kematian jutaan anak akibat small-arm benar-benar bikin miris. Menurut mereka, sejak 1990, lebih dari dua juta anak terbunuh, enam juta lainnya mengalami cidera serius, dan lebih dari 22 juta telah kehilangan tempat tinggal. Selain disebabkan oleh penyalahgunaan small-arm, bencana juga ditimbulkan oleh pe­makaian light weapon. (Carol Bellamy, Direktur Eksekutif UNICEF, dalam pamflet No Gun Please: We Are Children, 2001).

“Tiap tahun paling tidak ratusan ribu orang meninggal sia­sia akibat senjata-senjata ini dan jutaan lainnya terluka,” tambah Bellany. UNICEF tak hanya menuduh AK. Small arm menurut batasan mereka, adalah segala jenis senjata api yang pemakaiannya dirancang untuk perorangan. Masuk dalam kategori ini adalah pistol, senapan serbu, sub-machine gun, carbine, dan senapan mesin ringan. Semen­tara untuk kategori light weapon, mereka menyebut: senapan mesin berat, kanon dan rudal anti pesawat portabel, mortir, roket dan rudal antitank. Light weapon dioperasikan oleh lebih dari satu orang.

Bagaimana AK bisa men­gakibatkan semua itu terjadi, tak seorang pun bisa menjawab dalam satu jawaban. Bahkan sang pencipta sekalipun, yakni Mikhail Timofeevich Kalashnikov, hanya bisa angkat bahu. Ia menampik semua penilaian buruk itu dengan menyatakan bahwa dirinya hanya sekadar merancang dan membuat. Senjata ini dianggapnya telah ber­jalan dan menentukan nasibnya sendiri Inilah yang kemudian menjadi kisah yang tak berkesu­dahan (never ending story) dari sang senapan. Talc seorang pun bisa mengekang bahwa senjata rancangan zaman Perang Dunia II ini masih akan bertahan hingga perang masa depan.

Kepada Joel Roberts, wartawan CBSNews, Kalashnikov men­egaskan dirinya hanya sekadar pencipta. Bahwa, ciptaannya itu kini menjadi mesin pembunuh paling dahsyat, is bukan lagi um­sannya. “Saya akan tetap merasa tak bersalah, dan akan tetap bisa tidur nyenyak. Sebab, saya mer­ancang senjata ini murni untuk mempertahankan negeri saya dari serangan Jerman,” ujarnya.
“Semua tuduhan itu seharusnya bukan untuk saya. Percayalah, saya bahkan tak menerima secuil pun royalti darinya. Kesalahan ada pada para politisi yang pintar memutar­balikkan fakta dan menarik keun­tungan dari semua pertikaian yang mereka ciptakan,” tambah mantan supir tank AD Rusia yang kini masih hidup dalam usia 91 tahun.

Perang Dunia II sendiri tak serta-merta mencuatkan profil AK. Senapan ini masih meniti perjalanannya dan menjalani sejumlah penyermpurnaan. Nama AK baru benar-benar bersinar setelah menjadi lawan tanding M­14 dan M-16 dalam kancah Perang Vietnam. Dalam perang inilah AK 47 terbukti battle proven. Banyak prajurit AS bahkan mengaku lebih menyukai AK ketimbang M-16 yang katanya kerap macet dan mengalami kerusakan. AK 47 yang waktu itu menjadi andalan tentara Vietnam Utara dan Vietkong, diakui superior dan tepat untuk pertempuran jarak pendek. Bagi para GI, justru senapan seperti ini­lah yang mereka perlukan dalam pertempuran di Vietnam.

Namun, kala itu nama AK belum sepenuhnya mendunia. Namanya baru benar-benar mend­unia setelah tentara Uni Soviet menenteng senapan ini masuk ke Afghanistan pada 1979. Dalam upaya menguasai negeri yang me­narik perhatian karena cadangan gas dan opium kulaitas tingginya itu, Uni Soviet membawa AK dari jenis baru, yakni AK 74. Diband­ing AK 47, peluru AK 74 jauh lebih mematikan. Ukuran kalibernya lebih kecil. Jika AK 47 standar menggunakan peluru kaliber 7,62 mm, AK 74 menggunakan peluru 5,45 x 39 mm.

Akan tetapi, bukan ukuran yang membuatnya mematikan. Yang membuatnya mematikan adalah kecepatannya yang jauh lebih tinggi serta konstruksi proyektilnya yang mudah hancur ketika menembus tubuh. Itu karena kulit proyektilnya yang sangat tipis sementara di dalamnya berongga. Ketika proyektil masuk ke dalam tubuh, proyektil akan segera pecah menjadi butiran-butiran kecil dan menyebar. Hal ini lah yang akan mengakibatkan luka lebih lebar dari biasanya dan sulit ditangani.
S
elama bertahun-tahun, peluru AK 74 menghantui para Mujahi­din yang menjadi seteru tentara Uni Soviet. Setiap kali mereka menyerbu desa-desa, senapan yang diberondongkan tentara Soviet itu pasti menelan banyak korban. Talc sedikit rumah sakit yang menyerah menangani luka akibat tembakan senapan ini. Sedemikian frustas­inya para Mujahidin menghadapi senapan tersebut, mereka lalu menyebut peluru AK 74 sebagai peluru beracun.
AK 47 di tangan anak-anak dan wanita. Kemudahan dalam menggunakannya membuat senapan ini menjadi andalan tentara anak-anak di Afrika dan Amerika Selatan. Unicef menentang habisan-habisan organisasi perlawanan yang telah melibatkan anak-anak sebagai satuan pembunuh. Di Iran, Irak, dan Pakistan.

Jangankan para Mujahidin, in­telijen Barat pun mengaku jeri dan harus bekerja keras untuk meng­etahui secara persis jenis senapan tersebut. Informasi cukup lengkap baru muncul setelah koresponden majalah Soldier of Fortune membe­berkannya pada majalah ini sekitar tahun 1980. Dari semua data yang mereka peroleh, intelijen Barat barulah menyadari bahwa peluru yang amat ditakuti itu rupanya berasal dari AK tipe baru, yakni AK 74. Senapan ini adalah hasil penyempurnaan AK 47.
Wanita bahkan juga "menyukai" senapan ini.

Prakarsa untuk memperkecil kaliber peluru rupanya datang dari TsNIITochmash, sebuah kelom­pok enjinir persenjataan di Uni Soviet. Mereka mengerjakannya pada dasawarsa 1960-an setelah mengikuti rekam jejak peluru 5,56 mm M-16. Namun oleh karena ketidaksempurnaan mekanis sena­pan, peluru tersebut ditinggalkan Oleh kelompok enjinir lain, peluru itu diambil kembali lalu dijadikan standar cartridge untuk AK 74.

Bukan rahasia lagi, jika intelijen Barat – khususnya CIA – kerap keluar masuk Afghanistan. Mereka ini adalah kepanjangan tangan pemerintahan masing-masing yang pada kenyataannya juga punya banyak kepentingan di negeri ini. AS, misalnya, diketahui kerap memberikan bantuan uang dan senjata untuk para Mujahidin karena sama-sama punya perha­tian besar pada gas, minyak, dan opium Afghanistan. Kemunculan AK 47 di medan pertempuran nyatanya cukup bikin repot CIA, karena dengan sendirinya para Mujahidin berharap AS memberi dukungan senjata yang sekelas. Senapan kir­iman pertama mereka, yakni .303 Lee Enfield dianggap tak memadai karena single shot dan bolt action. Terlalu riskan untuk menandingi AK 74 yang bisa memuntahkan 650 peluru dalam semenit. Kunci satu-satunya untuk menandingi senapan ini adalah senapan serbu sejenis. Selain dibuat di dalam neg­eri (Uni Soviet), AK 74 juga dibuat di China, Bulgaria, Jerman Timur dan Romania. CIA pun memburu senapan ini.

Disukai Pemasok Senjata
Ternyata tak sulit untuk men­dapatkan AK di pasaran umum. Kuncinya hanya satu, yakni uang dan mau mendekati pemasok sen­jata Dalam sekejap, Howard Hart, Kepala Kantor CIA di Pakistan, pun berhasil memesan ratusan ribu AK. Bukan AK 74, tapi AK 47. Senjata ini tidak didatangkan dari Soviet, tapi dari China dan Polandia. Mesir dan Turki juga ketahuan ikut memasok.
AK-47 & Bayonet
P
residen AS Ronald Reagan menggelontorkan uang hingga 200 juta dollar, sementara keluarga Raja Arab Saudia bersedia melipatgandakannya menjadi 400 juta dollar. Uang itu lah yang dibe­lanjakan CIA untuk membantu persenjataan Mujahidin. Sejumlah sumber mengatakan, pasokan senjata yang dikelola CIA untuk wilayah Afghanistan pada 1988 itu dikenal sebagai yang ter­besar sejak Perang Vietnam. Dinas Intelijen AS ini total menyalurkan dana (yang diterima dari berbagai donatur) hingga dua miliar dollar. Senjata biasanya di-drop terlebih dulu ke Islamabad atau Karachi. Dari situ senjata kemudian dipecah ke dua kota, yakni Quetta dan Peshawar, sebelum akhirnya dikirim ke Afghanistan.

Akibat dari perkembangan ini, para pemasok senjata pun kerap berkeliaran di Islamabad, Karachi, serta beberapa kota lain, dan menjadikan kota-kota itu sebagai pusat perdagangan senjata di Asia. Perkembangan ini membuat Pakistan tak hanya disinggahi para Mujahidin. Para penjahat, geng­geng kriminal, pedagang obat bius, dan tokoh-tokoh masyarakat yang ingin ikut menikmati kekayaan alam Afghanistan pun tak ayal juga kepincut untuk melawat. Otoritas setempat tak pernah benar-benar melarang mereka, karena para pe­masok senjata tahu benar apa yang harus diberikan kepada oknum Dinas Intelijen Pakistan.

Alhasil, tak perlu menunggu waktu lama untuk membuat AK populer di Pakistan, Afghanistan dan negara-negara di sekitarnya. Hanya dalam beberapa tahun, koran Los Angeles Times bahkan sudah menggambarkan Pakistan bak Wild West julukan untuk Amerika di masa koboi. “Jika Anda ingin Kalashnikov, datang saja ke Hyderabad. Di sana ada sekitar 8.000 AK, dan Anda bisa dapatkan dengan harga 15.000 rupee atau sekitar 850 dollar. Jika uang tidak cukup, beri saja panjer 5.000 rupee. Gunakan untuk mer­ampok bank, lalu bayar sisanya dengan uang hasil rampokan,” begitu gurauan yang ditulis LAT.
“Di Peshawar, Anda bahkan bisa menyewa AK jam-jaman kepada warga setempat,” tulis kritikus yang lain, menggambar­kan Pakistan yang telah berubah menjadi salah satu kota terpanas di dunia.

Di luar Asia sebenarnya ada kota-kota lain yang juga disukai para pemasok senjata. Kota-kota itu ada di Liberia, Burkina Faso, Guinea, dan Pantai Gading di Afrika. Mereka juga menyukai beberapa tempat seperti Lebanon, Israel, Panama, Nicaragua dan Co­lombia. Negara-negara ini disukai oleh karena potensi konflik yang memang begitu tinggi. Namun demikian, di antara negara-negara itu, banyak pihak menyatakan, tak ada yang hampir menyamai Pakistan kecuali Nicaragua.

Nicaragua, pada dasawarsa 1980-an, juga merupakan surga lain bagi para pemasok senjata. Di negara ini puluhan ribu AK digu­nakan dan mengalir ke negara­negara lain di Amerika Selatan. Lewat cara-cara yang unik, yang mana di dalamnya CIA juga terli­bat, senapan juga dikirim ke Peru, El Salvador, Panama, Honduras, dan Venezuela. Jika disimak lebih lanjut, ada beberapa kesamaan yang membuat AK mengalir deras ke Amerika Selatan. Kesamaan itu adalah stabilitas pemerintahan yang rapuh dan maraknya perda­gangan obat bius.

Nicaragua sendiri tak banyak berperan dalam perdagangan obat bius. Namun, karena posisinya yang sangat strategis, yakni ada di tengah-tengah negara penghasil kokain, negeri ini enak dijadikan pijakan bagi para pemasok senjata. Terlebih karena CIA pernah mem­berikan bantuan senjata dalam jumlah besar bagi para pejuang Contra – organisasi perlawa­nanan yang berseberangan dengan pemerintahan Sandinista yang berkuasa saat itu.

Kisah keterlibatan CIA di Nicaragua sendiri mencuri per­hatian dunia setelah Kongres AS dan Komisi Tower menyingkap Skandal Iran-Contra pada 1986. Dalam skandal yang dikendalikan Letkol Oliver L. North dari Dewan Keamanan Nasional itu, AS men­jual senjata antitank kepada Iran, sementara keuntungan dari hasil penjualan dibelikan senjata ringan (sebagian besar adalah AK) untuk mendukung perjuangan Contra. Kasus ini dinyatakan sebagai skandal karena proses penjualan senjata kepada Iran telah mencid­erai seruan embargo yang dinya­takan sendiri oleh Pemerintah AS, dan Presiden Ronald Reagan akhirnya mengaku mengetahui dan menyetujui transaksi ini.

Misi rahasia dukungan persenjataan kepada Contra mulai tercium setelah tentara Nicaragua menembak jatuh pesawat asing ketika melintas di atas kota San Carlos pada 1986. Pesawat kargo C-123 warna kamuflase Vietnam ini ternyata bermuatan AK, 100.000 amunisi, RPG dan logistik. Dua awaknya tewas, sementara se­orang lagi, yakni Eugene Hasenfus, selamat. Lewat interogasi, Hasen­fus akhirnya mengaku bahwa barang-barang itu adalah kiriman CIA untuk Contra.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger