pemasok bom pesawat sukhoi TNI

 
 
 
 
Persenjataan enam pesawat Sukhoi milik TNI selama ini ternyata tidak dipasok dari Rusia, produsen jet tempur tersebut. Tetapi, pesawat itu memanfaatkan bom buatan sebuah industri berskala kecil di Kota Malang. Orang di balik industri bom itu adalah Ricky Hendrik Egam. Siapa dia?

DUA bengkel teknik di Jalan Muharto, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, tersebut menjadi tempat produksi bom latih P-100. Itu termasuk jenis dropped bomb atau bom yang dijatuhkan dari pesawat.  Dua bengkel tersebut disewa Ricky Hendrik Egam dari seorang pengusaha lokal sejak 2007. Dahulu, bengkel itu digunakan untuk membuat knalpot motor, reparasi mesin industri, serta pembuatan suku cadang bus.
    
Sebelum dijadikan lokasi produksi bom, warga mengenalnya sebagai bengkel berbendera Raja Knalpot. Kini, warga nyaris tidak tahu bahwa bengkel tersebut membuat persenjataan pesawat tempur Sukhoi. Sebuah bengkel seluas sekitar setengah lapangan bola itu digunakan Ricky sebagai lokasi assembling dan finishing pembuatan bom. Berbagai peralatan teknik terlihat di sana. Misalnya, beberapa jenis mesin bubut, mesin bor, peralatan las, hingga alat pengecatan dan balancing (keseimbangan). Di bengkel itu juga ada kantor serta tempat penyimpanan casing (selongsong) bom yang sudah jadi.
 
Satu bengkel lainnya, yang terletak di seberang bengkel tersebut, dijadikan lokasi pengecoran badan bom. Di bengkel yang berukuran lebih kecil itu, Ricky membuat selongsong bom dari besi nodular. Dia juga membuat fin (penyeimbang atau ekor) dari besi ST-37, suslug (cantelan) dari baja VCN 45, tabung isian, nose (bagian depan bom), dan pelontar.Minggu (28/3), 14 staf khusus presiden datang berkunjung ke sana. Mereka melihat pembuatan bom yang bisa dipasang di jet tempur Sukhoi 27/30 dan pesawat standar NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) seperti F-5 tersebut. Mereka tertarik pada industri kecil yang bisa menopang kebutuhan alutsista (alat utama sistem persenjataan) dalam negeri itu.
’Terus terang, saya baru tahu kali ini. Pemerintah mestinya memberi perhatian sehingga nanti bisa dikembangkan untuk industri pertahanan,’’ ujar Purwatmojo, ketua rombongan staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana. Ada dua jenis bom yang dipabrikasi di bengkel sederhana tersebut. Yakni, bom latih P-100 biru dan bom P-100 L (life) hijau militer. Dimensi dua bom itu hampir sama. Panjangnya 1.100 milimeter (1,1 meter); berat 100-125 kilogram; dan diameter 273 milimeter. Panjang ekor (fin) sekitar 550 milimeter.
 
Bom warna biru hanya bisa mengeluarkan asap ketika dijatuhkan dan hidungnya menyentuh tanah. Asap tersebut berasal dari gas TiCl2 (titanium dichloride) yang dimasukkan dalam tabung di badan bom. Gas di dalamnya keluar karena tabung pecah saat membentur tanah Bom latih 100 kilogram itu digunakan sejak 2007 oleh pesawat tempur Sukhoi SU 27/30 di Skuadron 11 Makassar. Bom latih yang diproduksi CV Sari Bahari, perusahaan yang didirikan Ricky, tersebut merupakan hasil pengembangan Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI-AU. Sudah ratusan bom latih yang diluncurkan pesawat Sukhoi milik TNI. Bom berwarna hijau militer bisa meledak karena diisi bahan peledak. Pengisian bahan peledak dilakukan di dua BUMNIS (badan usaha milik negara industri strategis). Yakni di PT Pindad untuk jenis bahan peledak militer dan PT Dahana, Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk jenis bahan peledak komersial. 
 
’’Kalau sudah diisi bahan peledak, bom langsung diangkut TNI-AU sebagai pengguna bom buatan kami. Kami tidak memiliki izin untuk menyimpan bahan peledak,’’ tutur Ricky. Untuk bom P-100 L yang bisa meledak, dia telah melakukan uji coba statis dan dinamis pada 29 Desember 2009. Uji coba berlokasi di AWR (Air Weapon Range) Pandanwangi, Lumajang. Bom dipasang di pesawat Sukhoi dan dijatuhkan pada ketinggian 4.500 feet (sekitar 1.371 meter). 
 
Hasilnya, Dislitbang TNI-AU menilai trajectory (lintasan bom) P-100 L itu layak digunakan seperti halnya P-100 versi latih yang telah mendapatkan sertifikat kelaikan. ’’Selesai uji coba tersebut, kami mendapat perintah untuk membuat 24 buah P-100 L yang akan digunakan dalam fire power demo bulan depan di hadapan Presiden SBY,’’ ungkap Ricky.Atas kepiawaiannya dalam pembuatan bom, Ricky pernah diundang dua kali oleh Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM). Bahkan, Malaysia memesan 1.000 unit P-100 L dan P-100. Bom tersebut akan digunakan untuk latihan pengeboman 18 unit pesawat Sukhoi milik Malaysia.
 
Selama ini, Sukhoi milik Negeri Jiran itu menggunakan dropped bomb jenis OFAB-50 buatan Rusia saat latihan. Tetapi, bom tersebut tidak punya jenis latih. Semua bisa meledak. Malaysia, tampaknya, berhitung soal mahalnya biaya latihan bila terus-menerus menggunakan OFAB-100-120. ’’Kalau dibanding biaya membeli bom latih ini, harganya satu banding lima,’’ beber putra purnawirawan TNI-AL tersebut. Profesi perancang sekaligus pembuat bom dilakoni Ricky penuh liku. Banyak dinamika yang mewarnai perjalanan pria kelahiran Surabaya 50 tahun lalu tersebut. Itu bermula saat Ricky lulus kuliah dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, 1985.
 
Saat itu, Ricky muda tak kunjung mendapat pekerjaan. Dia pun memutuskan berwirausaha dan mendirikan CV Sari Bahari yang bergerak dalam bidang perdagangan umum. Pada 1987, oleh salah seorang kenalannya, dia diajak mendaftar menjadi rekanan PT Pindad di Turen, Malang. Awalnya, Ricky tidak memasok barang yang terkait peluru, persenjataan, atau peralatan teknik. Dia justru menyuplai barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti kain pel, sapu, serta kayu untuk palet (alas barang).
 
Aktivitas seperti itu dilakoni selama lebih dari lima tahun. ’’Memasok barang itu juga melalui tender. Kadang dapat, kadang tidak,’’ ucap penggemar film kartun Tom & Jerry tersebut.Selama menjadi rekanan Pindad itu, dia biasa berhubungan dengan tenaga ahli dari perusahaan luar negeri yang membantu di BUMN tersebut. Para konsultan asing itu juga memasok spare part mesin-mesin milik Pindad. Sebagian besar mesin Pindad memang harus diimpor. Ricky pun bisa berbincang banyak dengan mereka karena dia andal berbahasa asing (Inggris).Dari perbincangan itulah, dia mulai tahu banyak tentang seluk-beluk senjata, peluru, serta peralatan militer. Berbekal banyak kenalan dan pengetahuan otodidak tersebut, Ricky lantas mencoba menjadi importer bagi Pindad. 
 
Awalnya, dia menjadi importer khusus barang-barang teknik yang berhubungan dengan mesin persenjataan. ’’Setiap saat saya di sana (Pindad) dan kenalannya orang-orang militer. Mindset saya akhirnya juga tidak jauh dari senjata,’’" tutur bapak tiga anak tersebut Usaha impornya makin berkembang. Dalam perjalanan, bukan hanya Pindad yang menjadi klien Ricky. Dia juga menjadi rekanan beberapa perusahaan yang masuk kategori BUMNIS. Barang-barang yang diimpor pun tak hanya berhubungan persenjataan. Ada pula kunci mesin, alat ukur, mesin bubut, serta mesin lain.
 
Kenalan Ricky juga bertambah. Bahkan, dia akhirnya menjadi subdistributor perusahaan distribusi alat teknik milik salah seorang keluarga mantan Presiden B.J. Habibie. Dari aktivitas itulah, penghobi segala jenis olahraga tersebut berkesempatan pergi ke Jerman. Saat itulah, Ricky menyadari bahwa persenjataan di dalam negeri harus mulai diproduksi. Sebab, semua potensi bahan dan kemampuan ada. Persenjataan tidak harus selalu diimpor. Dia pun sempat mengikuti kursus persenjataan saat di Jerman. ’’Saat itu, saya berpikir, mosok ngene ae gak iso nggawe (hanya begini kok tidak bisa membuat),’’ tegasnya.
 
Sepulang dari Jerman, Ricky mulai berpikir memproduksi alutsista bagi TNI. Pada 2005, dia bekerja sama dengan Dislitbang TNI-AU. Proyek pertamanya adalah meneliti dan membuat kepala roket latih kaliber 2,75 inci (warhead practice cal 2,75 inci PSB Smokey). Sebagian bahannya masih impor. Setelah melalui beberapa penelitian, kepala roket latih itu pun sukses dibuat dan layak pakai.Pada 2007, masih bersama Dislitbang TNI-AU, dia membuat bom latih untuk jet tempur Sukhoi 27/30. Bentuk jadinya dinamai P-100. Artinya, pengebom dengan berat 100 kilogram. ’’Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya sukses. Produksi P-100 saat ini menggunakan modal sendiri,’’ tutur Ricky. 
 
Kini, bom P-100 versi latih digunakan para penerbang enam pesawat tempur Sukhoi milik TNI. Sebagai informasi, sejak dibeli TNI-AU pada 2003, enam Sukhoi itu tidak pernah dipersenjatai karena keterbatasan anggaran pertahanan. ’’P-100 ini sebagai awal. Kalau Tiongkok bisa, mengapa kita tidak,’’ ujarnya.  Dalam waktu dekat, generasi P-100 dikembangkan. Dia punya konsep untuk membuat dropped bomb yang pintar. Yang dimaksud adalah sebuah bom P-100 (L) yang bisa menemukan sasaran sendiri. Konsekuensinya, saat penembakan, ketinggian pesawat harus berada di atas 9.000 feet (2.743 meter).Bahan dasar smart bomb itu sama dengan P-100 (L). Besi nodular yang diolah sendiri dari bijih besi dan baja VCN bisa dibeli dari industri baja dalam negeri. Alat GPS (global positioning system) pun mudah didapat. 
 
’Dropped bomb masih punya keunggulan dibanding misil (peluru kendali). Yakni, tidak ada panas yang bisa dideteksi radar. Kalau dropped bomb-nya pintar, untuk mengebom ke sasaran, pesawat tak usah masuk ke daerah lawan. Tahu-tahu bomnya datang ke sasaran,’’ kata penggiat Komunitas Anak Kolong tersebut. Selain menyiapkan smart bomb, penggemar otomotif itu sudah membuat roket kaliber 2,75 inci yang dinamai folding fin rocket cal 2,75 inch. Bahan-bahan roket juga terdapat di dalam negeri. Tabung roket dibuat dari campuran beberapa jenis besi. Termasuk, fin (ekor atau penyeimbang) bisa dirancang di dalam negeri. Roket tersebut telah diuji coba ground to ground (darat ke darat) dengan daya jelajah 8 kilometer. 
 
 Ricky menyatakan, roket tersebut juga cocok untuk sistem persenjataan air to air (udara ke udara) atau air to ground (udara ke darat). ’’Roket ini buatan sendiri. Tetapi, untuk bahan pendorongnya, kami minta Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang mengisi,’’ ucap pria berdarah Manado tersebut.
 Selain itu, Ricky mengembangkan usaha membuat mounting stand gun cal 5.56-12.7 milimeter. Alat tersebut digunakan menyetel akurasi senapan milik TNI. Selama ini, untuk menyetel senapan saja, TNI harus menggunakan alat yang diimpor dari luar negeri. ’’Kita sebenarnya bisa buat di dalam negeri. Jadi, mengapa harus impor?’’ tegasnya.
    
Ricky menyatakan sangat termotivasi untuk memproduksi persenjataan bagi TNI. Alasannya, produksi persenjataan yang dilakukan 99 persen di dalam negeri sangat menguntungkan dari sisi pertahanan negara. Sebagai anak mantan tentara, dia tahu bahwa kekuatan pertahanan bisa diketahui dengan mudah jika sebuah negara mengimpor senjata. Sebaliknya, kalau industri di dalam negeri bisa memproduksi sendiri, negara lain tidak akan mengetahui kapasitas produksinya. Lebih dari itu, dengan menggandeng industri kecil, pembuatan senjata lebih efisien dan bisa menyerap tenaga kerja dalam negeri. ’Biayanya tentu lebih murah karena seluruh bahan dari dalam negeri. Besi bisa dibeli dari pabrik, mesiu dibeli dari Dahana atau Pindad. Tinggal pemantik bom (fuse) saja yang diimpor,’’ kata penggemar buku fiksi ilmiah itu. (yosi a./jpnn/niz)
 
Persenjataan enam pesawat Sukhoi milik TNI selama ini ternyata tidak dipasok dari Rusia, produsen jet tempur tersebut. Tetapi, pesawat itu memanfaatkan bom buatan sebuah industri berskala kecil di Kota Malang. Orang di balik industri bom itu adalah Ricky Hendrik Egam. Siapa dia?

DUA bengkel teknik di Jalan Muharto, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, tersebut menjadi tempat produksi bom latih P-100. Itu termasuk jenis dropped bomb atau bom yang dijatuhkan dari pesawat. Dua bengkel tersebut disewa Ricky Hendrik Egam dari seorang pengusaha lokal sejak 2007. Dahulu, bengkel itu digunakan untuk membuat knalpot motor, reparasi mesin industri, serta pembuatan suku cadang bus.Sebelum dijadikan lokasi produksi bom, warga mengenalnya sebagai bengkel berbendera Raja Knalpot. Kini, warga nyaris tidak tahu bahwa bengkel tersebut membuat persenjataan pesawat tempur Sukhoi.
    
Sebuah bengkel seluas sekitar setengah lapangan bola itu digunakan Ricky sebagai lokasi assembling dan finishing pembuatan bom. Berbagai peralatan teknik terlihat di sana. Misalnya, beberapa jenis mesin bubut, mesin bor, peralatan las, hingga alat pengecatan dan balancing (keseimbangan). Di bengkel itu juga ada kantor serta tempat penyimpanan casing (selongsong) bom yang sudah jadi.
 
Satu bengkel lainnya, yang terletak di seberang bengkel tersebut, dijadikan lokasi pengecoran badan bom. Di bengkel yang berukuran lebih kecil itu, Ricky membuat selongsong bom dari besi nodular. Dia juga membuat fin (penyeimbang atau ekor) dari besi ST-37, suslug (cantelan) dari baja VCN 45, tabung isian, nose (bagian depan bom), dan pelontar.
   
 Minggu (28/3), 14 staf khusus presiden datang berkunjung ke sana. Mereka melihat pembuatan bom yang bisa dipasang di jet tempur Sukhoi 27/30 dan pesawat standar NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) seperti F-5 tersebut. Mereka tertarik pada industri kecil yang bisa menopang kebutuhan alutsista (alat utama sistem persenjataan) dalam negeri itu.
’’Terus terang, saya baru tahu kali ini. Pemerintah mestinya memberi perhatian sehingga nanti bisa dikembangkan untuk industri pertahanan,’’ ujar Purwatmojo, ketua rombongan staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana.
    
Ada dua jenis bom yang dipabrikasi di bengkel sederhana tersebut. Yakni, bom latih P-100 biru dan bom P-100 L (life) hijau militer. Dimensi dua bom itu hampir sama. Panjangnya 1.100 milimeter (1,1 meter); berat 100-125 kilogram; dan diameter 273 milimeter. Panjang ekor (fin) sekitar 550 milimeter. Bom warna biru hanya bisa mengeluarkan asap ketika dijatuhkan dan hidungnya menyentuh tanah. Asap tersebut berasal dari gas TiCl2 (titanium dichloride) yang dimasukkan dalam tabung di badan bom. Gas di dalamnya keluar karena tabung pecah saat membentur tanah.
   
 Bom latih 100 kilogram itu digunakan sejak 2007 oleh pesawat tempur Sukhoi SU 27/30 di Skuadron 11 Makassar. Bom latih yang diproduksi CV Sari Bahari, perusahaan yang didirikan Ricky, tersebut merupakan hasil pengembangan Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI-AU. Sudah ratusan bom latih yang diluncurkan pesawat Sukhoi milik TNI.
   
 Bom berwarna hijau militer bisa meledak karena diisi bahan peledak. Pengisian bahan peledak dilakukan di dua BUMNIS (badan usaha milik negara industri strategis). Yakni di PT Pindad untuk jenis bahan peledak militer dan PT Dahana, Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk jenis bahan peledak komersial. 
Kalau sudah diisi bahan peledak, bom langsung diangkut TNI-AU sebagai pengguna bom buatan kami. Kami tidak memiliki izin untuk menyimpan bahan peledak,’’ tutur Ricky.Untuk bom P-100 L yang bisa meledak, dia telah melakukan uji coba statis dan dinamis pada 29 Desember 2009. Uji coba berlokasi di AWR (Air Weapon Range) Pandanwangi, Lumajang. Bom dipasang di pesawat Sukhoi dan dijatuhkan pada ketinggian 4.500 feet (sekitar 1.371 meter). 
 
Hasilnya, Dislitbang TNI-AU menilai trajectory (lintasan bom) P-100 L itu layak digunakan seperti halnya P-100 versi latih yang telah mendapatkan sertifikat kelaikan. ’’Selesai uji coba tersebut, kami mendapat perintah untuk membuat 24 buah P-100 L yang akan digunakan dalam fire power demo bulan depan di hadapan Presiden SBY,’’ ungkap Ricky.Atas kepiawaiannya dalam pembuatan bom, Ricky pernah diundang dua kali oleh Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM). Bahkan, Malaysia memesan 1.000 unit P-100 L dan P-100. Bom tersebut akan digunakan untuk latihan pengeboman 18 unit pesawat Sukhoi milik Malaysia.
 
Selama ini, Sukhoi milik Negeri Jiran itu menggunakan dropped bomb jenis OFAB-50 buatan Rusia saat latihan. Tetapi, bom tersebut tidak punya jenis latih. Semua bisa meledak. Malaysia, tampaknya, berhitung soal mahalnya biaya latihan bila terus-menerus menggunakan OFAB-100-120. ’’Kalau dibanding biaya membeli bom latih ini, harganya satu banding lima,’’ beber putra purnawirawan TNI-AL tersebut.
    
Profesi perancang sekaligus pembuat bom dilakoni Ricky penuh liku. Banyak dinamika yang mewarnai perjalanan pria kelahiran Surabaya 50 tahun lalu tersebut. Itu bermula saat Ricky lulus kuliah dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, 1985.Saat itu, Ricky muda tak kunjung mendapat pekerjaan. Dia pun memutuskan berwirausaha dan mendirikan CV Sari Bahari yang bergerak dalam bidang perdagangan umum. Pada 1987, oleh salah seorang kenalannya, dia diajak mendaftar menjadi rekanan PT Pindad di Turen, Malang.Awalnya, Ricky tidak memasok barang yang terkait peluru, persenjataan, atau peralatan teknik. Dia justru menyuplai barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti kain pel, sapu, serta kayu untuk palet (alas barang).
   
Aktivitas seperti itu dilakoni selama lebih dari lima tahun. ’’Memasok barang itu juga melalui tender. Kadang dapat, kadang tidak,’’ ucap penggemar film kartun Tom & Jerry tersebut.Selama menjadi rekanan Pindad itu, dia biasa berhubungan dengan tenaga ahli dari perusahaan luar negeri yang membantu di BUMN tersebut. Para konsultan asing itu juga memasok spare part mesin-mesin milik Pindad. Sebagian besar mesin Pindad memang harus diimpor. Ricky pun bisa berbincang banyak dengan mereka karena dia andal berbahasa asing (Inggris).
 
Dari perbincangan itulah, dia mulai tahu banyak tentang seluk-beluk senjata, peluru, serta peralatan militer. Berbekal banyak kenalan dan pengetahuan otodidak tersebut, Ricky lantas mencoba menjadi importer bagi Pindad.
    
Awalnya, dia menjadi importer khusus barang-barang teknik yang berhubungan dengan mesin persenjataan. ’’Setiap saat saya di sana (Pindad) dan kenalannya orang-orang militer. Mindset saya akhirnya juga tidak jauh dari senjata,’’" tutur bapak tiga anak tersebut.
 Usaha impornya makin berkembang. Dalam perjalanan, bukan hanya Pindad yang menjadi klien Ricky. Dia juga menjadi rekanan beberapa perusahaan yang masuk kategori BUMNIS. Barang-barang yang diimpor pun tak hanya berhubungan persenjataan. Ada pula kunci mesin, alat ukur, mesin bubut, serta mesin lain.
 
Kenalan Ricky juga bertambah. Bahkan, dia akhirnya menjadi subdistributor perusahaan distribusi alat teknik milik salah seorang keluarga mantan Presiden B.J. Habibie. Dari aktivitas itulah, penghobi segala jenis olahraga tersebut berkesempatan pergi ke Jerman.
 
Saat itulah, Ricky menyadari bahwa persenjataan di dalam negeri harus mulai diproduksi. Sebab, semua potensi bahan dan kemampuan ada. Persenjataan tidak harus selalu diimpor. Dia pun sempat mengikuti kursus persenjataan saat di Jerman. ’’Saat itu, saya berpikir, mosok ngene ae gak iso nggawe (hanya begini kok tidak bisa membuat),’’ tegasnya.
   
 Sepulang dari Jerman, Ricky mulai berpikir memproduksi alutsista bagi TNI. Pada 2005, dia bekerja sama dengan Dislitbang TNI-AU. Proyek pertamanya adalah meneliti dan membuat kepala roket latih kaliber 2,75 inci (warhead practice cal 2,75 inci PSB Smokey). Sebagian bahannya masih impor. Setelah melalui beberapa penelitian, kepala roket latih itu pun sukses dibuat dan layak pakai. Pada 2007, masih bersama Dislitbang TNI-AU, dia membuat bom latih untuk jet tempur Sukhoi 27/30. Bentuk jadinya dinamai P-100. Artinya, pengebom dengan berat 100 kilogram. ’’Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya sukses. Produksi P-100 saat ini menggunakan modal sendiri,’’ tutur Ricky.
   
 Kini, bom P-100 versi latih digunakan para penerbang enam pesawat tempur Sukhoi milik TNI. Sebagai informasi, sejak dibeli TNI-AU pada 2003, enam Sukhoi itu tidak pernah dipersenjatai karena keterbatasan anggaran pertahanan. ’’P-100 ini sebagai awal. Kalau Tiongkok bisa, mengapa kita tidak,’’ ujarnya. Dalam waktu dekat, generasi P-100 dikembangkan. Dia punya konsep untuk membuat dropped bomb yang pintar. Yang dimaksud adalah sebuah bom P-100 (L) yang bisa menemukan sasaran sendiri. Konsekuensinya, saat penembakan, ketinggian pesawat harus berada di atas 9.000 feet (2.743 meter). Bahan dasar smart bomb itu sama dengan P-100 (L). Besi nodular yang diolah sendiri dari bijih besi dan baja VCN bisa dibeli dari industri baja dalam negeri. Alat GPS (global positioning system) pun mudah didapat. 
 
’’Dropped bomb masih punya keunggulan dibanding misil (peluru kendali). Yakni, tidak ada panas yang bisa dideteksi radar. Kalau dropped bomb-nya pintar, untuk mengebom ke sasaran, pesawat tak usah masuk ke daerah lawan. Tahu-tahu bomnya datang ke sasaran,’’ kata penggiat Komunitas Anak Kolong tersebut. Selain menyiapkan smart bomb, penggemar otomotif itu sudah membuat roket kaliber 2,75 inci yang dinamai folding fin rocket cal 2,75 inch. Bahan-bahan roket juga terdapat di dalam negeri. Tabung roket dibuat dari campuran beberapa jenis besi. Termasuk, fin (ekor atau penyeimbang) bisa dirancang di dalam negeri. Roket tersebut telah diuji coba ground to ground (darat ke darat) dengan daya jelajah 8 kilometer.
    
Ricky menyatakan, roket tersebut juga cocok untuk sistem persenjataan air to air (udara ke udara) atau air to ground (udara ke darat). ’’Roket ini buatan sendiri. Tetapi, untuk bahan pendorongnya, kami minta Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang mengisi,’’ ucap pria berdarah Manado tersebut.Selain itu, Ricky mengembangkan usaha membuat mounting stand gun cal 5.56-12.7 milimeter. Alat tersebut digunakan menyetel akurasi senapan milik TNI. Selama ini, untuk menyetel senapan saja, TNI harus menggunakan alat yang diimpor dari luar negeri. ’’Kita sebenarnya bisa buat di dalam negeri. Jadi, mengapa harus impor?’’ tegasnya.
    
Ricky menyatakan sangat termotivasi untuk memproduksi persenjataan bagi TNI. Alasannya, produksi persenjataan yang dilakukan 99 persen di dalam negeri sangat menguntungkan dari sisi pertahanan negara. Sebagai anak mantan tentara, dia tahu bahwa kekuatan pertahanan bisa diketahui dengan mudah jika sebuah negara mengimpor senjata.
   
 Sebaliknya, kalau industri di dalam negeri bisa memproduksi sendiri, negara lain tidak akan mengetahui kapasitas produksinya. Lebih dari itu, dengan menggandeng industri kecil, pembuatan senjata lebih efisien dan bisa menyerap tenaga kerja dalam negeri.’’Biayanya tentu lebih murah karena seluruh bahan dari dalam negeri. Besi bisa dibeli dari pabrik, mesiu dibeli dari Dahana atau Pindad. Tinggal pemantik bom (fuse) saja yang diimpor,’’ kata penggemar buku fiksi ilmiah itu.
 

1 komentar:

BLOOM mengatakan...

mohon maaf saya kira anda orang lumajang jadi koment diatas saya harap dihapus saja

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger